Minggu, 12 Oktober 2008

sistim control plc



1. Pendahuluan
Sistem kontrol proses terdiri atas sekumpulan piranti-piranti dan peralatanperalatan
elektronik yang mampu menangani kestabilan, akurasi, dan
mengeliminasi transisi status yang berbahaya dalam proses produksi. Masingmasing
komponen dalam sistem kontrol proses tersebut memegang peranan
pentingnya masing-masing, tidak peduli ukurannya. Misalnya saja, jika sensor tidak
ada atau rusak atau tidak bekerja, maka sistem kontrol proses tidak akan tahu apa
yang terjadi dalam proses yang sedang berjalan.
Sebuah PLC (kepanjangan Programmable Logic control) adalah sebuah alat yang
digunakan untuk menggantikan rangkaian sederetan relay yang dijumpai pada
sistem kontrol proses konvensional. PLC bekerja dengan cara mengamati
masukan (melalui sensor-sensor terkait), kemudian melakukan proses dan
Lisensi dokumen :
Copyright ã 2006 kelas-mikrokontrol.com
Seluruh dokumen di kelas-mikrokontrol.com dapat digunakan, dimodifikasi dan
disebarluaskan secara bebas untuk tujuan bukan komersil (nonpfrofit), dengan
syarat tidak menghapus atau merubah atribut penulis dan pernyataan copyright
yang disertakan dalam setiap dokumen. Tidak boleh melakukan penulisan ulang,
kecuali mendapat ijin terlebih dahulu dari kelas-mikrokontrol.com
Kuliah Pengantar kelas-mikrokontrol.com
Copyright © 2006 kelas-mikrokontrol.com
melakukan tindakan sesuai yang dibutuhkan, yang berupa menghidupkan atau
mematikan keluarannya (logika 0 atau 1, hidup atau mati). Pengguna membuat
program (yang umumnya dinamakan diagram tangga atau ladder diagram) yang
kemudian harus dijalankan oleh PLC yang bersangkutan, Dengan kata lain, PLC
menentukan aksi apa yang harus dilakukan pada instrumen keluaran berkaitan
dengan status suatu ukuran atau besaran yang diamati.
PLC banyak digunakan pada aplikasi-aplikasi industri, misalnya pada proses
pengepakan, penanganan bahan, perakitan, otomatis dan sebagainya. Dengan
kata lain, hampir semua aplikasi yang memerlukan kontrol listrik atau elektronik
membutuhkan PLC.
Guna memperjelas contoh penggunaan PLC ini, misalnya diinginkan saat suatu
saklar ON, akan digunakan untuk menghidupkan sebuah selenoida selama 5 detik,
tidak peduli berapa lama saklar tersebut ON. Kita bisa melakukan hal ini
menggunakan pewaktu atau timer. Tetapi bagaimana jika yang dibutuhkan 10
saklar dan 10 selenoida, maka kita akan membutuhkan 10 pewaktu. Kemudian
bagaimana jika kemudian dibutuhkan informasi berapa kali masing-masing saklar
dalam kondisi ON, tentu saja akan membutuhkan pencacah eksternal. Demikian
seterusnya, makin lama makin kompleks.
Dengan demikian, semakin kompleks proses yang harus ditangani, semakin
penting penggunaan PLC untuk mempermudah proses-proses tersebut (dan
sekaligus menggantikan beberapa alat yang diperlukan). Selain itu sistem kontrol
proses konvensional memiliki beberapa kelemahan, antara lain :
§ perlu kerja keras saat dilakukan pengkabelan
§ Kesulitan saat dilakukan penggantian dan/atau perubahan;
§ Kesulitan saat dilakukan pelacakan kesalahan;
§ Saat terjadi masalah, waktu tunggu tidak menentu dan biasanya lama.
Sedangkan penggunaan kontroler PLC memiliki beberapa kelebihan dibandingkan
dengan sistem kontrol konvesional, antara lain:
§ Dibandingkan dengan sistem kontrol proses konvensional, jumlah kabel
yang dibutuhkan bisa berkurang hingga 80 %
Kuliah Pengantar kelas-mikrokontrol.com
Copyright © 2006 kelas-mikrokontrol.com
§ PLC mengkonsumsi daya lebih rendah dibandingkan dengan sistem kontrol
proses konvensional (berbasis relay);
§ Fungsi diagnostik pada sebuah kontroler PLC membolehkan pendeteksian
kesalahan yang mudah dan cepat;
§ Perubahan pada aurutan operasional atau proses atau aplikasi dapat
dilakukan dengan mudah, hanya dengan melakukan perubahan atau
penggantian program, baik melalui terminal konsol maupun komputer PC;
§ Tidak membutuhkan spare part yang banyak;
§ Lebih murah dibandingkan dengan sistem konvensional, khususnya dalam
kasus penggunaan instrumen I/O yang cukup banyak dan fungsi operasional
prosesnya cukup kompleks;
§ Ketahanan PLC jauh lebih baik dibandingkan dengan relay auto-mekanik
2. Sejarah PLC
PLC pertama kali diperkenalkan pada tahun 1960-an. Alasan utama perancangan
PLC adalah untuk menghilangkan beban ongkos perawatan dan penggantian
sistem kontrol mesin berbasis relay. Bedford Associate (Bedford, MA) mengajukan
usulan yang diberi nama MODICON (kepanjangan Modular Digital controller) untuk
perusahaan-perusahaan mobil di Amerika. Sedangkan perusahaan lain
mengajukan sistem berbasis komputer (PDP-8). MODICON 084 merupakan PLC
pertama didunia yang digunakan pada produk komersil.
Saat kebutuhan produksi berubah maka demikian pula dengan sistem kontrol-nya.
Hal ini menjadi sangat mahal jika perubahannya terlalu sering. Karena relai
merupakan alat mekanik, maka, tentu saja, memiliki umur hidup atau masa
penggunaan yang terbatas, yang akhirnya membutuhkan jadwal perawatan yang
ketat. Pelacakan kerusakan atau kesalahan menjadi cukup membosankan jika
banyak relai yang digunakan. Bayangkakn saja sebuah panel kontrol yang
dilengkapi dengan monitor ratusan hingga ribuan relai yang terkandung pada
Kuliah Pengantar kelas-mikrokontrol.com
Copyright © 2006 kelas-mikrokontrol.com
sistem kontrol tersebut. Bagaimana kompleks-nya melakukan pengkabelan pada
relai-relai tersebut. Bayangkan saja hal ini.
Dengan demikian "pengontrol baru" (the new controller) ini harus memudahkan
para teknisi perawatan dan teknisi lapangan melakukan pemrograman. Umur alat
harus menjadi lebih panjang dan program proses dapat dimodifikasi atau dirubah
dengan lebih mudah. Serta harus mampu bertahan dalam lingkungan industri yang
keras. Jawabannya ? Penggunaan teknik pemrograman yang sudah banyak
digunakan (masalah kebiasaan dan pada dasarnya bahwa 'people do not like to
change') dan mengganti bagian-bagian mekanik dengan teknologi solid-state (IC
atau mikroelektronika atau sejenisnya)
Pada pertengahan tahun 1970-an, teknologi PLC yang dominan adalah sekuenser
mesin-kondisi dan CPU berbasis bit-slice. Prosesor AMD 2901 dan 2903 cukup
populer digunakan dalam MODICON dan PLC A-B. Mikroprosesor konvensional
kekurangan daya dalam menyelesaikan secara cepat logika PLC untuk semua
PLC, kecuali PLC kecil. Setelah mikroprosesor konvensional mengalami perbaikan
dan pengembangan, PLC yang besar-besar mulai banyak menggunakan-nya.
Bagaimanapun juga, hingga saat ini ada yang masih berbasis pada AMD 2903.
Kemampuan komunikasi pada PLC mulai muncul pada awal-awal tahun 1973.
Sistem yang pertama adalah Modbus-nya MODICON. Dengan demikian PLC bisa
berkomunikasi dengan PLC lain dan bisa ditempatkan lebih jauh dari lokasi mesin
sesungguhnya yang dikontrol. Sekarang kemampuan komunikasi ini dapat
digunakan untuk mengirimkan dan menerima berbagai macam tegangan untuk
membolehkan dunia analog ikut terlibat. Sayangnya, kurangnya standarisasi
mengakibatkan komunikasi PLC menjadi mimpi buruk untuk protokol-protokol dan
jaringa-jaringan yang tidak kompatibel. Tetapi bagaimanapun juga, saat itu
merupakan tahun yang hebat untuk PLC.
Pada tahun 1980-an dilakukan usaha untuk menstandarisasi komunikasi dengan
protokol otomasi pabrik milik General Motor (General Motor's Manufacturring
Automation Protocol (MAP)). Juga merupakan waktu untuk memperkecil ukuran
PLC dan pembuatan perangkat lunak pemrograman melalui pemgromaman
Kuliah Pengantar kelas-mikrokontrol.com
Copyright © 2006 kelas-mikrokontrol.com
simbolik dengan komputer PC daripada terminal pemrogram atau penggunaan
pemrogram genggam (handled programmer). Sekarang PLC terkecil seukuran
dengan sebuah kontrol relai tunggal (seperti produk ZEN Programmable Relay dari
Omron).
Tahun 1990- dilakukan reduksi protokol baru dan modernisasi lapisan fisik dari
protokol-protokol populer yang bertahan pada tahun 1980-an. Standar terakhir (IEC
1131-3), bisa diakses di http://www.plcopen.org/default.htm) berusaha untuk
menggabungkan bahasa pemrograman PLC dibawah satu standar internasional.
Sekarang bisa dijumpai PLC-PLC yang diprogram dalam diagram fungsi blok,
daftar instruksi, C dan teks terstruktur pada saat bersamaan.
3. Pendekatan sistematik dalam perancangan sistem kontrol Proses
Pertama, Anda perlu memilih suatu instrumen atau sistem yang hendak dikontrol;
Sistem yang terotomasi bisa berupa sebuah mesin atau suatu proses yang
kemudian disebut sebagai sistem kontrol proses. Fungsi dari sistem kontrol proses
ini secara terus-menerus akan mengamati sinyal-sinyal yang berasal dari pirantipiranti
masukan (sensor) dan tanggapanynya berupa suatu sinyal yang diberikan ke
piranti keluaran eksternal yang secara lagnsung mengontrol bagaimana suatu
sistem beroperasi atau bekerja.
Kedua, Anda perlu menentukan semua masukan dan keluaran yang akan
dihubungkan ke PLC; Piranti masukan dapat berupa saklar, sensor dan lain
sebagainya. Sedangkan piranti keluaran dapat berupa selenoida, kran
elektromagnet, motor, relai, starter magnet begitu juga dengan instrumen lain yang
bisa menghasilkan suara atau cahaya (lampu) dan lain sebagainya.
setelah menentukan kebutuhan semua piranti masukan dan keluaran dilanjutkan
dengan menentukan penggunaan jalur-jalur masukan dan keluaran pada PLC untuk
piranti-piranti masukan dan keluaran yang sudah ditentukan tadi.
Ketiga, membuat program yang lebih dikenal dengan diagram tangga (untuk PLC)
sesuai dengan jalannya proses yang diinginkan. Dalam hal ini bisa digunakan
Kuliah Pengantar kelas-mikrokontrol.com
Copyright © 2006 kelas-mikrokontrol.com
terminal konsol yang langsung berhubungan dengna PLC yang bersangkutan atau
melalui komputer PC yang memiliki saluran komunikasi yang dibutuhkan untuk
mentransfer program dari komputer PC ke PLC maupun sebaliknya.
Keempat, program disimpan ke dalam PLC; baik dilakukan secara langsung
melalui terminal konsol maupun melalui komputer PC.
4. Komponen-komponen PLC
PLC sesungguhnya merupakan sistem mikrokontroler khusus untuk industri, artinya
seperangkat perangkat lunak dan keras yang diadaptasi untuk keperluan aplikasi
dalam dunia industri. Elemen-elemen dasar sebuah PLC ditunjukkan pada gambar
berikut
Gambar elemen-elemen dasar PLC
Kuliah Pengantar kelas-mikrokontrol.com
Copyright © 2006 kelas-mikrokontrol.com
4.1. Unit Pengolah Pusat (CPU - Centarl Processing Unit)
Unit pengolah pusat atau CPU merupakan otak dari sebuah kontroler PLC. CPU itu
sendiri biasanya merupakan sebuah mikrokontroler (versi mini mikrokontroler
lengkap). Pada awalnya merupakan mikrokontroler 8-bit seperti 8051, namun saat
ini bisa merupakan mikrokontroler 16 atau 32 bit. Biasanya untuk produk-produk
PLC buatan Jepang, mikrokontrolernya adalah Hitachi dan Fujitsu, sedangkan
untuk produk Eropa banyak menggunakan Siemens dan Motorola untuk produkproduk
Amerika. CPU ini juga menangani komunikasi dengan piranti eksternal,
interkonektivitas antar bagian-bagian internal PLC, eksekusi program, manajemen
memori, mengawasi atau mengamati masukan dan memberikan sinyal ke keluaran
(sesuai dengan proses atau program yang dijalankan). Kontroler PLC memiliki
suatu rutin kompleks yang digunakan untuk memeriksa agar dapat dipastikan
memori PLC tidak rusak, hal ini dilakukan karena alasan keamanan. Hal ini bisa
dijumpai dengan adanya indikator lampu pada badan PLC sebagai indikator
terjadinya kesalahan atau kerusakan.
4.2. Memori
Memori sistem (saat ini banyak yang mengimplementasikan penggunaan teknologi
flash) digunakan oleh PLC untuk sistem kontrol proses. Selain berfungsi untuk
menyimpan "sistem operasi", juga digunakan untuk menyimpan program yang
harus dijalankan, dalam bentuk biner, hasil terjemahan diagram tangga yang dibuat
oleh pengguna atau pemrogram. Isi dari memori Flash tersebut dapat berubah
(bahkan dapat juga dikosongkan atau dihapus) jika memang dikehendaki seperti
itu. Tetapi yang jelas, dengan penggunaan teknologi Flash, proses penghapusan
dan pengisian kembali memori dapat dilakukan dengan mudah (dan cepat).
Pemrograman PLC, biasanya, dilakukan melalui kanal serial komputer yang
bersangkutan.
Memori pengguna dibagi menjadi beberapa blok yang memiliki fungsi khusus.
Beberapa bagian memori digunakan untuk menyimpan status masukan dan
Kuliah Pengantar kelas-mikrokontrol.com
Copyright © 2006 kelas-mikrokontrol.com
keluaran. Status yang sesungguhnya dari masukan maupun keluaran disimpan
sebagai logika atau bilangan '0' dan '1' (dalam lokasi bit memori tertentu). Masingmasing
masukan dan keluaran berkaitan dengan sebuah bit dalam memori.
Sedangkan bagian lain dari memori digunakan untuk menyimpan isi variabelvariabel
yang digunakan dalam program yang dituliskan. Misalnya, nilai pewaktu
atau nilai ppencacah bisa disimpan dalam bagian memori ini.
4.3. Pemrograman PLC
Kontroler PLC dapat diprogram melalui komputer, tetapi juga bisa diprogram
melalui program manual, yang biasa disebut dengan konsol (console). Untuk
keperluan ini dibutuhkan perangkat lunak, yang biasanya juga tergantung pada
produk PLC-nya. Dengan kata lain, masing-masing produk PLC membutuhkan
perangkat sendiri-sendiri.
Saat ini fasilitas PLC dengan komputer sangat penting sekali artinya dalam
pemrograman-ulang PLC dalam dunia industri. Sekali sistem diperbaiki, program
yang benar dan sesuai harus disimpan ke dalam PLC lagi. Selain itu perlu
dilakukan pemeriksaan program PLC, apakah selama disimpan tidak terjadi
perubahan atau sebaliknya, apakah program sudah berjalan dengan benar atau
tidak. Hal ini membantu untuk menghindari situasi berbahaya dalam ruang produksi
(pabrik), dalam hal ini beberapa pabrik PLC telah membuat fasilitas dalam PLCnya
berupa dukungan terhadap jaringan komunikasi, yang mampu melakukan
pemeriksaan program sekaligus pengawasan secara rutin apakah PLC bekerja
dengan baik dan benar atau tidak.
Hampir semua produk perangkat lunak untuk memprogram PLC memberikan
kebebasan berbagai macam pilihan seperti: memaksa suatu saklar (masukan atau
keluaran) bernilai ON atau OFF, melakukan pengawasan program (monitoring)
secara real-time termasuk pembuatan dokumentasi diagram tangga yang
bersangkutan. Dokumentasi diagram tangga ini diperlukan untuk memahami
program sekaligus dapat digunakan untuk pelacakan kesalahan. Pemrogram dapat
Kuliah Pengantar kelas-mikrokontrol.com
Copyright © 2006 kelas-mikrokontrol.com
memberikan nama pada piranti masukan dan keluaran, komentar-komentar pada
blok diagram dan lain sebagainya. Dengan pemberian dokumentasi maupun
komentar pada program, maka akan mudah nantinya dilakukan pembenahan
(perbaikan atau modifikasi) program dan pemahaman terhadap kerja program
diagram tangga tersebut.
4.4. Catu daya PLC
Catu daya listrik digunakan untuk memberikan pasokan catu daya ke seluruh
bagian PLC (termasuk CPU, memori dan lain-lain). Kebanyakan PLC bekerja pada
catu daya 24 VDC atau 220 VAC. Beberapa PLC catu dayanya terpisah (sebagai
modul tersendiri). Yang demikian biasanya merupakan PLC besar, sedangkan
yang medium atau kecil, catu dayanya sudah menyatu. Pengguna harus
menentukan berapa besar arus yang diambil dari modul keluaran/masukan untuk
memastikan catu daya yang bersangkutan menyediakan sejumlah arus yang
memang dibutuhkan. Tipe modul yang berbeda menyediakan sejumlah besar arus
listrik yang berbeda.
Catu daya listrik ini biasanya tidak digunakan untuk memberikan catu daya
langsung ke masukan maupun kelauran, artinya masukan dan keluaran murni
merupakan saklar (baik relai maupun opto isolator). Pengguna harus menyediakan
sendiri catu daya terpisah untuk masukan dan keluaran PLC. Dengan cara
demikian, maka lingkungan industri dimana PLC digunakan tidak akan merusak
PLC-nya itu sendiri karena memiliki catu daya terpisah antara PLC dengan jalurjalur
masukan dan keluaran.
4.5. Masukan-masukan PLC
Kecerdasan sebuah sistem terotomasi sangat tergantung pada kemampuan
sebuah PLC untuk membaca sinyal dari berbagai macam jenis sensor dan pirantipiranti
masukan lainnya. untuk mendeteksi proses atau kondisi atau status suatu
keadaan atau proses yang sedang terjadi, misalnya, berapa cacah barang yang
Kuliah Pengantar kelas-mikrokontrol.com
Copyright © 2006 kelas-mikrokontrol.com
sudah diproduksi, ketinggian permukaan air, tekanan udara dan lain sebagainya,
maka dibutuhkan sensor-sensor yang tepat untuk masing-masing kondisi atau
keadaan yang akan dideteksi tersebut. Dengan kata lain, sinyal-sinyal masukan
tersebut dapat berupa logik (ON atau OFF) maupun analog. PLC kecil biasanya
hanya memiliki jalur masukan digital saja, sedangkan yang besar mampu
menerima masukan analog melalui unit khusus yang terpadu dengan PLC-nya.
Salah satu sinyal analog yang sering dijumpai adalah sinyal arus 4 hingga 20mA
(atau mV) yang diperoleh dari berbagai macam sensor.
Lebih canggih lagi, peralatan lain dapat dijadikan masukan untuk PLC, seperti citra
dari kamera, robot (misalnya, robot bisa mengirimkan sinyal ke PLC sebagai suatu
informasi bahwa robot tersebut telah selesai memindahkan suatu objek dan lain
sebagainya) dan lain-lain.
4.6. Pengaturan atau Antarmuka Masukan
Antarmuka masukan berada di antara jalur masukan yang sesungguhnya dengan
unit CPU. Tujuannya adalah melindungi CPU dari sinyal-sinyal yang tidak
dikehendaki yang bisa merusak CPU itu sendiri. Modul antar masukan ini berfungsi
untuk mengkonversi atau mengubah sinyal-sinyal masukan dari luar ke sinyal-sinyal
yang sesuai dengan tegangan kerja CPU yang bersangkutan (misalnya, masukan
dari sensor dengan tegangan kerja 24 VDC harus dikonversikan menjaid tegangan
5 VDC agar sesuai dengan tegangan kerja CPU). Hal ini dengan mudah dilakukan
menggunakan rangkaian opto-isolator sebagaimana ditunjukkan pada gambar
berikut
Kuliah Pengantar kelas-mikrokontrol.com
Copyright © 2006 kelas-mikrokontrol.com
Gambar rangkaian antarmuka masukan PLC
Penggunaan opto-isolator artinya tidak ada hubungan kabel sama sekali antara
dunia luar dengan unit CPU. Secara 'optik' dipisahkan (perhatikan gambar diatas),
atau dengan kata lain, sinyal ditransmisikan melalui cahaya. Kerjanya sederhana,
piranti eksternal akan memberikan sinyal untuk menghidupkan LED (dalam opto
osilator), akibatnya photo transistor akan menerima cahaya dan akan
menghantarkan arus (ON), CPU akan melihatnya sebagai logika nol (catu antara
kolektor dan emitor drop dibawah 1 volt). Begitu juga sebaliknya, saat sinyal
masukan tidak ada lagi, maka LED akan mati dan photo transistor akan berhenti
menghantar (OFF), CPU akan melihatnya sebagai logika satu.
4.7. Keluaran-keluaran PLC
sistem otomatis tidaklah lengkap jika tidak ada fasilitas keluaran atau fasilitas untuk
menghubungkan dengan alat-alat eksternal (yang dikendalikan). Beberapa alat atau
piranti yang banyak digunakan adalah motor, selenoida, relai, lampu indikator,
speaker dan lain sebagainya. Keluaran ini dapat berupa analog maupun digital.
Keluaran digital bertingkah seperti sebuah saklar, menghubungkan dan
memutuskan jalur. Keluaran analog digunakan untuk menghasilkan sinyal analog
(misalnya, perubahan tegangan untuk pengendalian motor secara regulasi linear
sehingga diperoleh kecepatan putar tertentu).
Kuliah Pengantar kelas-mikrokontrol.com
Copyright © 2006 kelas-mikrokontrol.com
4.8. Pengaturan atau Antarmuka Keluaran
Sebagaimana pada antarmuka masukan, keluaran juga membutuhkan antarmuka
yang sama yang digunakan untuk memberikan perlindungan CPU dengan
peralatan eksternal, sebagaimana ditunjukkan pada gambar I.3 Cara kerjanya juga
sama, yang menyalakan dan mematikan LED didalam optoisolator sekarang
adalah CPU, sedangkan yang membaca status photo transistor, apakah
menghantarkan arus atau tidak, adalah peralatan atau piranti eksternal.
Gambar rangkaian antarmuka keluaran PLC
4.9. Jalur Ekstensi atau Tambahan
Setiap PLC biasanya memiliki jumlah masukan dan keluaran yang terbatas. Jika
diinginkan, jumlah ini dapat ditambahkan menggunakan sebuah modul keluaran
dan masukan tambahan (I/O expansion atau I/O extension module).
5. Menghubungkan Piranti Masukan dan Keluaran
Sebagaimana sudah dijelaskan sebelumnya, PLC yang berdiri sendiri tidak ada
artinya, agar berfungsi sebagaimana mestinya, PLC haruslah dilengkapi dengan
piranti-piranti masukan dan keluaran. Untuk masukan, diperlukan sensor untuk
memperoleh informasi yang dibutuhkan. Kemudian apa yang dikendalikan atau
dikontrol ? inilah fungsi dari keluaran, dihubungkan dengan berbagai macam piranti
yang akan dikendalikan seperti motor, selenoida dan lain sebagaimnya.
Kuliah Pengantar kelas-mikrokontrol.com
Copyright © 2006 kelas-mikrokontrol.com
5.1 Konsep Dasar
Konsep dasar berkaitan dengan apa yang bisa dihubungkan dan bagaimana cara
menghubungkan ke masuka atau keluaran PLC. Ada dua istilah yang sudah lazim
dikalangan elektronika maupun pengguna PLC, yaitu istilah "singking" dan
"sourcing”. Istilah singking berkaitan dengan penarikan atau penyedotan sejumlah
arus dari piranti luar (eksternal), istilah ini berkaitan degan tanda "-" (terminal
negatif) atau GND (ground). Sedangkan istilah sourcing, yang berkaitan dengan
terminal atau tanda "+" atau Vcc, berkaitan dengan pemberian sejumlah arus ke
piranti luar (eksternal)
Masukan atau keluaran, baik yang bersifat singking atau sourcing hanya bisa
menghantarkan arus listrik satu arah (searah saja), artinya menggunakan catu daya
DC. Dengan demikian, setiap jalur keluaran atau masukan memiliki terminal (+) dan
(-), jika terdapat 5 masukan, maka akan terdapat 10 (5x2 terminal) sekrup terminal
masukan, yang masing-masing bertanda (+) dan (-). namun hal ini kemudian
dihindari dengan cara menyatukan terminal (+)nya, yang kemudian untuk beberapa
masukan atau keluaran dijadikan satu dan disebut dengan jalur common (dalam
PLC dengan tanda COMM). Pada gambar dibawah ditunjukkan contoh 3 masukan
dengan satu jalur tunggal terminal COMM dan masing-masing dihubungkan dengan
sebuah saklar.
Gambar ilustrasi terminal COMM
Kuliah Pengantar kelas-mikrokontrol.com
Copyright © 2006 kelas-mikrokontrol.com
5.2 Jalur-jalur Masukan
Yang perlu diperhatikan dalam menghubungkan piranti luar dengan jalur masukan,
yang biasanya berupa sensor, adalah bahwa keluaran dari sensor bisa berbeda
tergantung dari sensor itu sendiri dan aplikasinya. Yang penting, bagaimana
caranya dibuat suatu rangkaian sensor yang dapat memberikan sinyal ke PLC
sesuai dengan spesifikasi masukan PLC yang digunakan. Pada gambar 5.2.a
ditunjukkan suatu contoh cara menghubungkan sebuah sensor denga tipe keluaran
singking dengan masukan PLC yang bersifat sourcing.
Gambar 5.2.a. Menghubungkan sensor keluaran singking dengan masukan
sourcing
Pada gambar 5.2.a tersebut, jenis sensor yang digunakan, sebagaimana
disebutkan sebelumnya, merupakan jensi yang menyedot arus (singking), dengan
demikian, masukan atau hubungan yang cocok disisi lainnya (PLC) adalah yang
memberikan arus (sourcing). Perhatikan penempatan tegangan DC-nya, terutama
polaritas terminalnya (positif dan negatifnya). Dalam hal ini COMMON bersifat
positif untuk tipe hubungan atau koneksi semacam ini. Sedangkan pada gambar
5.2.b ditunjukkan tipe koneksi yang lain atau kebalikan dari tipe koneksi yang
sebelumnya.
Kuliah Pengantar kelas-mikrokontrol.com
Copyright © 2006 kelas-mikrokontrol.com
Gambar 5.2.b menghubungkan sensor keluaran sourcing dengan masukan
singking
Pada gambar 5.2.b memperlihatkan bahwa sekarang sensor memiliki sumber arus
sendiri sehingga tipenya merupakan sourcing, pasangan terminalnya disisi yang
lain (PLC) merupakan tipe singking. Untuk tipe hubungan semacam ini, COMMON
bersifat negatif atau GND. Secara garis besar dapat dikatakan bahwa harus
dilakukan hubungan singking-sourcing atau sourcing-singking bukan singkingsingking
maupun sourcing-sourcing.
5.3 Jalur-jalur Keluaran
Keluaran dari PLC biasanya dapat berupa transistor dalam hubungan PNP, NPN
maupun relai. Pada gambar 5.3.a dan 5.3.b, masing-masing ditunjukkan
bagaimana cara PLC mengatur piranti eksternal secara nyata.
Gambar 5.3.a. Menghubungkan beban keluaran dengan keluaran PLC tipe
singking
Kuliah Pengantar kelas-mikrokontrol.com
Copyright © 2006 kelas-mikrokontrol.com
Gambar 5.3.b. Menghubungkan beban keluaran dengan keluaran PLC tipe
sourcing
Pada gambar 5.3.a. ditunjukkan bagaimana PLC menangani beban keluaran, jika
PLC-nya sendiri keluarannya tipe singking. Beban diletakkan antara terminal
masukan singking dengan terminal positif catu daya, yang digunakan untuk
menggerakkan beban bukan untuk PLC-nya itu sendiri. Sedangkan pada gambar
5.3.b. adalah sebaliknya, tipe keluaran PLC adalah sourcing, sehingga
konfigurasinya beban keluaran diletakkan antara keluaran sourcing dengan
terminal negatif.
6. Operasional PLC
Sebuah PLC bekerja secara kontinyu dengna cara men-scan program. Ibaratnya
kita bisa mengilustrasikan satu siklus scan ini menjadi 3 langkah atau 3 tahap.
Umumnya lebih dari 3 tetapi secara garis besarnya ada 3 tahap tersebut,
sebagaimana ditunjukkan pada gambar dibawah
Kuliah Pengantar kelas-mikrokontrol.com
Copyright © 2006 kelas-mikrokontrol.com
Gambar Proses scanning program PLC
Keterangan :
1. Periksa status masukan, pertama PLC akan melihat masing-masing status
keluaran apakah kondisinya sedang ON atau OFF. Dengan kata lain, apakah
sensor yang terhubungkan dengan masukan pertama ON ? Bagaimana dengan
yang terhubungkan pada masukan kedua ? Demikian seterusnya, hasilnya
disimpan ke dalam memori yang terkait dan akan digunakan pada langkah
berikutnya;
2. Eksekusi Program, berikutnya PLC akan mengerjakan atau mengeksekusi
program Anda (diagram tangga) per instruksi. Mungkin program Anda
mengatakan bahwa masukan pertama statusnya ON maka keluaran pertama
akan di-ON-kan. Karena PLC sudah tahu masukan yang mana saja yang ON
dan OFF, dari langkah pertama dapat ditentukan apakah memang keluaran
pertama harus di-ON-kan atau tidak (berdasarkan status masukan pertama).
Kemudian akan menyimpan hasil eksekusi untuk digunakan kemudian;
3. Perbaharui status keluaran, akhirnya PLC akan memperbaharui atau mengupdate
status keluaran. Pembaharuan keluaran ini bergantung pada masukan
mana yang ON selama langkah 1 dan hasil dari eksekusi program di langkah 2.
Jika masukan pertama statusnya ON, maka dari langkah 2, eksekusi program
akan menghasilkan keluaran pertama ON, sehingga pada langkah 3 ini
keluaran pertama akan diperbaharui menjadi ON.
Kuliah Pengantar kelas-mikrokontrol.com
Copyright © 2006 kelas-mikrokontrol.com
Setelah langkah 3, PLC akan menghalangi lagi scanning program-nya dari langkah
1, demikian seterusnya. Waktu scan didefinisikan sebagai waktu yang dibutuhkan
untuk mengerjakan 3 langkah tersebut. Masing-masing langkah bisa memiliki waktu
tanggap (response time) yang berbeda-beda, waktu total tanggap atau total
response time adalah jumlah semua waktu tanggap masing-masing langkah:
waktu tanggap masukan + waktu eksekusi program + waktu tanggap keluaran =
waktu tanggap total

Synchronizing generator



Synchronizing generator
Synchronizing generator adalah memparalelkan kerja dua buah generator atau lebih untuk
mendapatkan daya sebesar jumlah generator tersebut dengan syarat syarat yang telah ditentukan.
Syarat syarat dasar dari parallel generator adalah sebagai berikut :
1. Mempunyai tegangan kerja yang sama
2. Mempunyai urutan phase yang sama
3. Mempunyai frekuensi kerja yang sama
4. Mempunyai sudut phase yang sama
Dalam kerja parallel generator tidak c ukup hanya berdasar pada syarat syarat diatas ada hal lain yang
perlu diketahui sebagai penjabaran syarat syarat diatas . Adapun penjabarannya sebagai berikut:
1. Mempunyai tegangan kerja yang sama
Apa yang diharapkan dengan adanya tegangan kerja yang sa ma ? dengan adanya tegangan kerja yang
sama diharapkan pada saat diparalel dengan beban kosong power faktornya 1. Dengan power factor 1
berarti tegangan antara 2 generator persisi sama .jika 2 sumber tegangan itu berasal dari dua sumber
yang sifatnya statis misal dari battery atau transformator maka tidak akan ada arus antara kedunya.
Namun karena dua sumber merupakan sumber tegangan yang dinamis (diesel generator) Maka power
factornya akan terjadi deviasi naik dan turun secara periodic bergantian dan berla wanan. Mengapa bisa
terjadi demikian ? Hal ini terjadi karena adanya sedikit perbedaan sudut phase yang sesekali bergeser
karena factor gerak dinamis dari diesel penggerak.Itu bisa dibuktikan dengan membaca secara
bersamaan Rpm dari kedua genset dalam kead aan sinkron misalnya Generator 1 mempunyai kecepatan
putar 1500 dan generator 2 mempunyai kecepatan putar 1501 maka terdapat selisih 1 putaran / menit
Dengan perhitungan 1/1500 x 360 derajat maka terdapat beda fase 0,24 derajat dan jika dihitung selisih
teganan sebesar cos phi 0,24 derajat x tegangan nominal (400 V ) - tegangan nominal (400 V ) dan
selisihnya sekitar V dan selisih tegangan yang kecil cukup mengakibatkan timbulnya arus sirkulasi antara
2 buah genset tersebut dan sifatnya tarik menarik . dan i tu tidak membahayakan.
Dan pada saat dibebani bersama sama maka power faktornya akan relative sama sesuai dengan power
factor beban.
Memang sebaiknya dan idealnya masing masing generator menunjukkan power factor yang sama.
Namun jika terjadi power factor y ang berbeda dengan selisih tidak terlalu banyak tidak terjadi akibat apa
apa. Akibatnya salah satu genset yang mempunyai nilai power factor rendah akan mempunyai nilai arus
yang sedikit lebih tinggi. Yang penting diperhatikan adalah tidak melebihi arus nom inal dan daya
nominal dari genset.
Sebagai contoh : Jika masing masing generator memikul beban 100 kw , dimana generator 1 dengan
power factor 0,85 dan yang satu mempunyai power factor 0,75. Maka dengan menggunakan rumus
daya aktif didapat selisih arus dan itu tidak ada masalah, dan bisa saja dianggap bahwa generator
bekerja independent dengan arus tersebut.
Pada saat generator bekerja parallel perubahan arus excitasi akan merubah power factor , jika arus
excitasi diperkuat maka nilai power factor mengecil menjauhi satu, sebaliknya jika excitasi dikurangi
maka nilai power factor akan membesar mendekati 1.
Pada generator yang akan diparalel biasanya didalam alternatornya ditambahkan peralatan yang
dinamakan Droop kit . Droop kit ini berupa current transform er yang dipasang. disebagian lilitan dan
outputnya disambungkan ke AVR. Droop kit ini berfungsi untuk mengatur power factor berdasarkan
besarnya arus beban.. Sehingga pembagian beban kvar diharapkan sama pada kw yang sama.
Pada panel panel kontrol modern sudah diperlengkapi dengan modul yang mana sudah terdapat
pengaturan Var generator dengan output yang disambungkan ke AVR generator . sehingga secara
otomatis masing masing genset berapapun beban kw power factor akan menjadi sama dan seimbang.
Hal ini diperuntukkan pada system yang mana system tersebut parallel sesaat atau transfer beban baik
antara genset maupun dengan PLN.
Pada saat transfer beban secara soft transfer terjadi pemindahan beban, perubahan power factor yang
kecenderungan terjadi diatur secar a otomatic oleh modul tersebut, sehingga pada saat transfer beban
tidak terjadi perubahan power factor yang berarti.
Pada saat ini banyak pembangkit listrik rental yang terdapat pada PLTD PLTD seluruh Indonesia, dimana
pihak swasta menyewakan Gensetnya un tuk menambah kapasitas daya terpasang PLN. Pada kondisi ini
sedikit berbeda dengan yang diuraikan diatas yaitu masalah pembagian dan pengaturan power factor.
Pada genset rental sudah ditentukan berapa kw beban yang akan disupply dan berapa kwh energi yang
akan dikirim.Pada saat mulai memparalelkan tegangan tidak harus sama, karena pengaturan kenaikan
beban secara bertahap maka pengaturan penambaha excitasi juga bertahap sampai didapatkan power
factor yang dikehendaki. Kita bisa mengatur sendiri power factor yang akan dioperasikan. Bisa 0,8 0,85
0,9 atau 0,95 namun pada umumnya yang lebih disukai pada power factor 0,9 . Mengapa kita bisa
mengatur power factor sekehendak kita ? hal ini dikarenakan kapasitas generator PLN jauh lebih besar
dibandingkan generator rental, sehingga perubahan power factor di generator rental tidak begitu
mempengaruhi banyak meskipun ada.
Sebagai contoh : Beban system suatu kota atau pulau sebesar 55 mega watt dimana PLN menyediakan
50 mega dan genset rental dapat beban 5 mega , Jika power factor beban yang ada 0,9 . dimana Pada
saat itu Power factor genset PLN 0,9 sedangkan rental juga diset 0,9. Jika suatu saat Power factor genset
rental diturunkan menjadi 0,8 dengan mengurangi arus excitasi. Maka perubahan power factor di
pembangkit PLN menjadi 0,91 . sebaliknya jika power factor genset rental diatur menjadi 1 dengan
menaikkan arus excitasi, power factor pembangkit PLN menjadi 0,89 sehingga perubahan sebesar 0,01
diabaikan.
Pada saat hendak memparalelkan secara manual generator den gan Catu daya PLN yang sudah berbeban
atau generator lain yang sudah berbeban, apa yang mesti dilakukan ? Jika kita menyamakan persis
dengan tegangan line / jala jala,maka pada saat breaker close power factor genset akan menunjuk 1 dan
beban kw akan menunjuk pada posisi 0, jika kita menambah daya output mesin perlahan lahan , maka
power factor akan cenderung menuju ke kapasitif (leading) dan memungkinkan terjadinya reverse
power. Untuk menghindari tersebut maka setelah sinkron penguatan excitasi dulu yang d inaikkan
sampai cosphi menunjuk 0,7. seiring dengan itu naikkan daya mesin dengan menaikkan speed adjuster.
Pada saat beban naik , cosphi akan naik membesar mendekati satu. Pada saat bersamaan excitasi diatur
mencapai nilai 0,7 demikian seterusnya sampai m encapai nilai yang diinginkan misalnya 1000 kw pada
cos phi 0,85.
2. Mempunyai urutan phase yang sama
Yang dimaksud urutan phase adalah arah putaran dari ketiga phase. Arah urutan ini dalam dunia industri
dikenal dengan nama CW ( clock wise) yang artinya searah jarum jam dan CCW (counter clock wise )
yang artinya berlawanan dengan jarum jam. Hal ini dapat diukur dengan alat phase sequence type
jarum. Dimana jika pada saat mengukur jarum bergerak berputar kekanan dinamakan CW dan jika
berputar kekiri dinamakan CCW.
Disamping itu dikenal juga urutan phase ABC dan CBA. ABC identik dengan CW sedangkan CBA identik
dengan CCW.
Perlu diketahui bahwa dalam banyak generator mencantumkan symbol R,S,T,N ataupun L1,L2,L3 ,N
namun tidak selalu berarti bahwa urutan CW / ABC itu berarti RST atau L1L2L3 jika diukur urutan STR,
TRS ,L2L3L1 itu juga termasuk CW/ABC .
Sebagai contoh : jika kabel penghantar yang keluar dari generator diseragamkan semua berwarna hitam
dan tidak ada kode sama sekali, apakah kita bisa membedakan secara visual atau parameter listrik
bahwa penghantar itu phasenya R , S , atau T tentu tidak. Kita hanya bisa membedakan arah urutannya
saja CW atau CCW. Apapun generatornya jika mempunyai arah urutan yang sama maka dapat dikatakan
mempunyai salah satu syarat dari parallel generator. Sehingga bisa jadi pada dua generator yang sama
urutan RST pada genset 1 dapat dihubungkan dengan phase STR pada Genset 2 dan itu tidak ada
masalah asal keduanya mempunyai arah urutan yang sama.
3. Mempunyai frekuensi kerja yang sama
Didalam dunia industri dikenal 2 buah system frekuensi yaitu 50 hz dan 60 hz . Dalam operasionalnya
sebuah genset bisa saja mempunyai frekuensi yang fluktuatif (berubah ubah) karena factor factor
tertentu. Pada jaringan distribusi dipasang alat pembatas frekuensi yang membatasi frekuensi pada
minimal 48,5 hz dan maksimal 51,5 Hz. Namun pada genset genset pabrik over frekuensi dibatasi sampai
55 hz sebagai overspeed.
Pada saat hendak parallel, dua buah genset tentu tidak mempunyai frekuensi yang s ama persis. Jika
mempunyai frekuensi yang sama persis maka genset tidak akan bisa parallel karena sudut phasanya
belum match, salah satu harus dikurang sedikit atau dilebihi sedikit untuk mendapatkan sudut phase
yang tepat. Setelah dapat disinkron dan berh asil sinkron baru kedua genset mempunyai frekuensi yang
sama sama persis.
4. Mempunyai sudut phase yang sama
Mempunyai sudut phase yang sama bisa diartikan , kedua phase dari 2 genset mempunyai sudut phase
yang berhimpit sama atau 0 derajat. Dalam kenyat aannya tidak memungkinkan mempunyai sudut yang
berhimpit karena genset yang berputar meskipun dilihat dari parameternya mempunyai frekuensi yang
sama namun jika dilihat menggunakan synchronoscope pasti bergerak labil kekiri dan kekanan, dengan
kecepatan sudut radian yang ada sangat sulit untuk mendapatkan sudut berhimpit dalam jangka
waktu0,5 detik. Breaker membutuhkan waktu tidak kurang dari 0,3 detik untuk close pada saat ada
perintah close.
Dalam proses sinkron masih diperkenankan perbedaan sudut maksima l 10 derajat. Dengan perbedaan
sudut maksimal 10 derajat selisih tegangan yang terjadi berkisar 49 Volt.
Gambar : Skema closing window synchronizing.
Gambar : proses pergeseran fasa antar bus dan genset
Setelah genset berhasil dan telah bekerja sink ron/ parallel, apakah hal itu sudah dikatakan bahwa genset
sudah bekerja paralel dengan baik. Tentunya belum dikatakan sempurna sebuah usaha paralel
generator sebelum hal hal tersebut dibawah ini bisa di jalankan :
1. Generator set mempunyai system gover nor yang sama , electrical governor dengan electrical
governor , mekanik servo dengan mekanik servo hal ini akan berpengaruh terhadap kepekaan respone
terhadap beban kejut.
2. Agar genset pada saat sinkron dapat mensupply beban dengan seimbang dengan gense t lain maka
masing masing genset dianjurkan untuk memiliki load sharing terutama untuk yang system automatic.
3. Pada beban rendah maupun tinggi dianjurkan masing masing genset mempunyai power factor yang
relative sama. Baik pada sinkron manual maupun sink ron otomatic.
4. Pada saat pembebanan / beban kejut masing masing genset mempunyai response yang sama , hal ini
berkaitan dengan penyetelan droop speed dan pengaturan speed control.
5. Pada saat pelepasan beban dianjurkan dengan soft unloading yaitu secara perlahan lahan dengan
pengaturan speed dan voltage.
6. Pada saat pemasukan beban dianjurkan dengan soft unloading yaitu secara perlahan lahan dengan
pengaturan speed dan Voltage.
7. Pada saat pembebanan tidak diperkenankan beban mengayun ayun dari genset satu ke genset
lainnya, dan harus pada kondisi konstan.
8. Pada dua genset yang berbeda kapasitasnya pembebanan pada masing masing genset sebaiknya
secara proporsional.
Pada peralatan modern saat ini sudah banyak diciptakan modul modul yang dapat mengakom odasi
kebutuhan synhcrone genset, berikut load sharing, synchronizing, dependent start stop, dan lain lain.
Bahkan controlling dan monitoring dapat diakses jarak jauh baik menggunakan kabel data ataupun
wireless.
Berikut ini bisa dijelaskan mengenai fasili tas yang ada pada modul modul modern antara lain :
1. Dependent Start/ stop genset
Adalah fasilitas yang dapat mengatur berapa genset yang hidup menyesuaikan kebutuhan beban, jika
beban kecil maka memerintahkan genset yang lainnya untuk shutdown dengan s oft unloading terlebih
dulu. Demikian juga bila beban secara bertahap naik sampai melampaui setting yang kita tetapkan maka
genset yang lainnya akan diperintahkan start secara otomatis dan sinkron otomatis.
2. Peak saving genset
Adalah fasilitas dalam modul yang berfungsi untuk memberikan tambahan daya pada trafo , sebagai
contoh kapasitas terpasang suatu bangunan 2000 KVA beban puncak mencapai 1400 kw , karena kondisi
temperature dan suhu transformator sudah maksimal dan kritis , sedangkan masih ada kece nderungan
penambahan beban sehingga akan sangat beresiko, maka genset dioperasikan paralel untuk
memberikan tambahan daya. Pada saat beban sudah hampir mencapai kapasitas maksimal trafo maka
genset akan secara otomatis start dan otomatis akan parelel.
Beban trafo akan dibuat tetap sedangkan kelebihannya akan disupply oleh Genset. Jika suatu saat beban
menurun . maka otomatis genset akan diperintahkan untuk melepaskan beban dan shuting down.
3. Base load kontrol
Base load kontrol adalah fasilitas dari mod ul yang mengatur beban genset secara konstan. Sedangkan
kelebihannya yang fluktuatif di supply oleh trafo.
Sebagai contoh bila sebuah rental genset dimana pihak rental harus memberikan daya sebasar 1000 kw
secara kontinu maka genset bisa mensupply 1000 kw meskipun beban berubah ubah , kelebihan akan
disupply oleh PLN .
Sebagai contoh lain dua buah generator 1000 KVA bekerja paralel dimana salah satu genset Karena
alasan teknis dibatasi hanya maksimal 500 Kw sedangkan genset yang satunya yang mensupply beban
sisanya .
4. Dapat dioperasikan jarak jauh dengan menggunakan kabel data sampai sejauh 300 meter. Dalam
operasional jarak jauh dapat dilakukan start dan stop engine, terbaca parameter listrik antara lain
kw,kva,kvar,volt, hz,cosphi,volt dc, running hours dll.
Pengaruh dan akibat yang ditimbulkan bila syarat syarat paralel generator tidak dipenuhi :
1. Pada generator yang diparalel dengan PLN , maka apabila generator yang akan diparalel mempunyai
tegangan lebih tinggi maka begitu breaker close generato r tersebut mempunyai power factor yang
rendah, namun tidak membahayakan karena power factor di PLN masih induktif dan berdaya besar.Dan
apabila jika generator itu mempunyai tegangan yang lebih rendah maka power factor akan bersifat
kapasitif dan mempunyai kecenderungan akan terjadi reverse power. Reverse power dibatasi pada level
5 % dari daya nominal.
Pada generator yang diparalel dengan generator pada saat sama sama belum berbeban, maka apabila
tegangan lebih tinggi power factor akan rendah ( induktif) na mun sebaliknya power factor genset yang
lain akan juga rendah namun bersifat kapasitif. Hingga genset yang lain mempunyai kecenderungan
reverse power.
2. Jika urutan phase tidak sama system ABC di parallel
dengan system CBA, maka akan terjadi selisih tega ngan sebesar 2 kali tegangan nominal ,hal itu bisa
dideteksi dengan diukur secara manual menggunakan voltmeter, pada saat synchronoscope menunjuk 0
derajat, terdapat selisih sebesar 2 x 400 V.
3. Jika frekuensi tidak sama diparalelkan maka akan terjadi be berapa kemungkinan yaitu dari yang paling
ringan sampai yang paling berat. Sebagai contoh generator 1 mempunyai frekuensi 49 hz sedangkan
generator 2 mempunyai frekuensi 50 hz. Dengan melihat synchronoscope maka jarum akan berputar
dengan kecepatan sudut 2 phi r/ detik atau 1putaran/ detik. Jika pada saat masuk pas pada sudut nol
maka generator yang memiliki frekuensi lebih rendah akan mengalami reverse power dimana pada saat
terhubung sinkron fekuensi ada pada 49,5 Hz . Dan proteksi reverse power akan beke rja mengamankan ,
namun jika pada saat masuk sinkron pas posisi synchronoscope di sudut 180 derajat itu berarti terjadi
selisih tegangan yang sangat besar disamping kemungkinan reverse juga terjadi kerusakan yang fatal
terhadap generator, di breaker akan m uncul arus yang besar dan menimbulkan percikan api yang besar
dan diengine akan terjadi hunting sesaat…dan hal itu bisa mengakibatkan kerusakan mekanis sampai
patah pada cransaft. Karena tekanan beban besar yang tiba tiba.
4. Jika sudut fase tidak sama nam un kecenderungan frekuensi sama hanya akan menyebabkan hunting
sesaat tanpa ada kemungkinan reverse power, namun juga sangat berbahaya jika berbeda sudutnya
terlalu besar , engine akan mengalami tekanan sesaat hingga hunting.

Alat Pembagi Beban Generator


Alat Pembagi
Beban
Generator
Home
Halaman Muka
Sajian Utama
Informatika
Elektronika
Meningkatkan
Efisiensi PLTU
Batu Bara
Pendahuluan
Listrik seperti kita ketahui adalah bentuk energi sekunder yang paling
praktis penggunaannya oleh manusia, di mana listrik dihasilkan dari
proses konversi energi sumber energi primer seperti batu bara, minyak
bumi, gas, panas bumi, potensial air dan energi angin.
Sistem pembangkitan listrik yang sudah umum digunakan adalah mesin
generator tegangan AC, di mana penggerak utamanya bisa berjen is mesin
turbin, mesin diesel atau mesin baling -baling. Dalam pengoperasian
pembangkit listrik dengan generator, karena faktor keandalan dan
fluktuasi jumlah beban, maka disediakan dua atau lebih generator yang
dioperasikan dengan tugas terus -menerus, cadangan dan bergiliran untuk
generator-generator tersebut.
Penyediaan generator tunggal untuk pengoperasian terus menerus adalah
suatu hal yang riskan, kecuali bila bergilir dengan sumber PLN atau
peralatan UPS.
Untuk memenuhi peningkatan beban listrik ma ka generator-generator
tersebut dioperasikan secara paralel antar generator atau paralel generator
dengan sumber pasokan lain yang lebih besar misalnya dari PLN.
Sehingga diperlukan pula alat pembagi beban listrik untuk mencegah
adanya sumber tenaga list rik terutama generator yang bekerja paralel
mengalami beban lebih mendahului yang lainnya.
Operasi Generator Secara Paralel
Pasokan listrik ke beban dimulai dengan menghidupkan satu generator,
kemudian secara sedikit demi sedikit beban dimasukkan sampai dengan
kemampuan generator tersebut, selanjutnya menghidupkan lagi generator
berikutnya dan memparalelkan dengan generator pertama untuk memikul
beban yang lebih besar lagi. Saat generator kedua diparalelkan dengan
generator pertama yang sudah memikul b eban diharapkan terjadinya
pembagian beban yang semula ditanggung generator pertama, sehingga
terjadi kerjasama yang meringankan sebelum beban -beban selanjutnya
dimasukkan.
Seberapa besar pembagian beban yang ditanggung oleh masing -masing
generator yang bekerja paralel akan tergantung jumlah masukan bahan
bakar dan udara untuk pembakaran mesin diesel, bila mesin penggerak
utamanya diesel atau bila mesin-mesin penggeraknya lain maka
tergantung dari jumlah (debit) air ke turbin air, jumlah (entalpi) uap/ga s
ke turbin uap/gas atau debit aliran udara ke mesin baling -baling.
Jumlah masukan bahan bakar/ udara, uap air/ gas atau aliran udara ini
diatur oleh peralatan atau katup yang digerakkan governor yang menerima
sinyal dari perubahan frekuensi listrik yang stabil pada 50Hz,
yang ekivalen dengan perubahan putaran (rpm) mesin penggerak utama
generator listrik. Bila beban listrik naik maka frekuensi akan turun,
sehingga governor harus memperbesar masukan ( bahan bakar/udara, air,
uap/gas atau aliran udara) ke mesin penggerak utama untuk menaikkan
frekuensinya sampai dengan frekuensi listrik kembali ke normalnya.
Sebaliknya bila beban turun, governor mesin-mesin pembangkit harus
mengurangi masukan bahan bakar/udara, air, uap air/gas atau aliran udara
ke mesin-mesin penggerak sehingga putarannya turun sampai putaran
normalnya atau frekuensinya kembali normal pada 50 Hz. Bila tidak ada
governor maka mesin-mesin penggerak utama generator akan mengalami
overspeed bila beban turun mendadak atau akan mengalami overload
bila beban listrik naik.
Prinsip Alat Pembagi Beban Generator
Governor beroperasi pada mesin penggerak sehingga generator
menghasilkan keluaran arus yang dapat diatur dari 0 % sampai dengan
100% kemampuannya. Jadi masukan ke mesin penggera k sebanding
dengan keluaran arus generatornya atau dengan kata lain pengaturan
governor 0 % sampai dengan 100 % sebanding dengan arus generator 0%
sampai dengan 100 % pada tegangan dan frekuensi yang konstan.
Governor bekerja secara hidrolik/mekanis, seda ngkan sinyal masukan dari
keluaran arus generator berupa elektris, sehingga masukan ini perlu
diubah ke mekanis dengan menggunakan elektric actuator untuk
menggerakkan motor listrik yang menghasilkan gerakan mekanis yang
diperlukan oleh governor.
Pada beberapa generator yang beroperasi paralel, setelah sebelumnya
disamakan tegangan, frekuensi, beda phasa dan urutan phasanya,
perubahan beban listrik tidak akan dirasakan oleh masing -masing
generator pada besaran tegangan dan frekuensinya selama beban masih
dibawah kapasitas total paralelnya, sehingga tegangan dan frekuensi ini
tidak digunakan sebagai sumber sinyal bagi governor.
Untuk itu digunakan arus keluaran dari masing -masing generator sebagai
sumber sinyal pembagian beban sistem paralel generator -generator
tersebut.
Saat diparalelkan pembagian beban generator belum seimbang/sebanding
dengan kemampuan masing-masing generator. Alat pembagi beban
generator dipasangkan pada masing-masing rangkaian keluaran
generator, dan masing-masing alat pembagi beban tersebut dihubungkan
secara paralel satu dengan berikutnya dengan kabel untuk menjumlahkan
sinyal arus keluaran masing-masing generator dan menjumlahkan sinyal
kemampuan arus masing-masing generator.
Arus keluaran generator yang dideteksi oleh alat pembagi beban akan
merupakan petunjuk posisi governor berapa % , atau arus yang lewat
berapa % dari kemampuan generator. Hasil bagi dari penjumlahan arus
yang dideteksi alat-alat pembagi beban dengan jumlah arus kemampuan
generator -generator yang beroperasi paralel dikalikan 100 (%)
merupakan nilai posisi governor yang harus dicapai oleh setiap mesin
penggerak utama sehingga menghasilkan keluaran arus yang proprosional
dan sesuai dengan kemampuan masing -masing generator.
Bila ukuran generator sama maka jumlah arus yang dideteksi oleh
masing-masing alat pembagi beban dibagi jumlah generator merupakan
arus beban yang harus dihasilkan oleh generator setelah governornya
diubah oleh electric actuator yang menerima sinyal dari alat pembagi
beban sesaat setelah generator diparalelkan .
Instalasi Teknis
Dalam prakteknya alat pembagi beban generator dipasang dengan bantuan
komponen-komponen seperti berikut : trafo arus, trafo tegangan (sebagai
pencatu daya), electric actuator, potensiometer pengatur kecepatan dan
saklar-saklar bantu. Lihat diagram pengkabelannya dalam Gambar 1.
a. Trafo arus berfungsi sebagai transducer arus keluaran generator
sampai dengan sebesar arus sinyal yang sesuai untuk alat pembagi
beban generator (biasanya maksimum 5 A atau = 100 %
kemampuan maksimum generator)
b. Trafo tegangan berfungsi sebagai sumber daya bagi alat pembagi
beban, umumnya dengan tegangan 110 V AC, 50 Hz; dibantu
adapter untuk keperluan tegangan DC.
c. Electric actuator merupakan peralatan yang menerima sinyal dari
alat pembagi beban sehingga mampu menggerakkan motor DC di
governor sampai dengan arus keluaran generator mencapai yang
diharapkan.
d. Potensiometer pengatur kecepatan adalah alat utama untuk
mengatur frekuensi dan tegangan saat generator akan diparalelkan
atau dalam proses sinkronisasi. Tegangan umumnya sudah diatur
oleh AVR, sehingga naik turunnya tegangan hanya dipengaruhi
oleh kecepatan putaran mesin penggerak. Setelah generator
dioperasikan paralelkan atau sudah sinkron dengan yang telah
beroperasi kemudian menutup Mccb generator, fungsi
potensiometer pengatur kecepatan ini diambil alih oleh alat
pembagi beban generator. Untuk lebih akuratnya pengaturan
kecepatan dalam proses sinkronisasi secara manual, biasanya
terdapat potensiometer pengatur halus dan potensiometer pengatur
kasar.
e. Pada sistem kontrol otomatis pemaralelan generator dapat
dilakukan oleh SPM (modul pemaralel generator) dengan
mengatur tegangan dan frekuensi keluaran dari generator,
kemudian mencocokan dengan tegangan dan frekuensi sistem
yang sudah bekerja secara otomatis, setelah cocok memberikan
sinyal penutupan ke Mccb generator sehingga bergabung dalam
operasi paralel. Untuk mencocokkan tegangan dan frekuensi dapat
dilihat dalam satu panel sinkron yang digunakan bersama untuk
beberapa generator dimana masing-masing panel generator
mempunyai saklar sinkron disamping SPM-nya.
Dalam Gambar 2 ditunjukkan penggunaan alat pembagi beban
generator dalam suatu sistem kontrol tenaga generator, kontrol mesin
penggerak dan managemen beban.(file power generation control).
f. Saklar-saklar bantu pada alat pembagi beban generator berfungsi
sebagai alat manual proses pembagian (pelepasan & pengambilan) beban
oleh suatu generator yang beroperasi dalam sistem paralel. Misalnya
*saklar 1 ditutup untuk meminimumkan bahan bakar diesel yang berarti
melepaskan beban.* Saklar 3 ditutup untuk menuju pada kecepatan
kelasnya (rated speed) yang berarti pengambilan beban dari generator
yang perlu diringankan beban listriknya.
Setelah generator beroperasi secara paralel, generator-generator dengan
alat pembagi bebannya selalu merespon secara aktif segala tindakan
penaikan atau penurunan beban listrik, sehingga masing -masing
generator menanggung beban dengan prosentasi yang sama diukur dari
kemampuan masing-masing
Kesimpulan
1. Alat pembagi beban generator merupakan peralatan otomatis yang
menyeragamkan operasi governor dalam menaikkan atau
menurunkan power mesin atau daya generator sesuai perubahan
bebannya, dan sangat diperlukan bila memiliki lebih dari dua
generator dengan karakteristik yang berbeda yang beroperasi
secara paralel.
2. Dengan alat pembagi beban generator, maka setiap generator
mempunyai faktor penggunaan (beban maksimum dibagi kapasitas
generator) yang sama dan kecil yang berarti bagus.
3. Perubahan beban akibat pemasukan atau pengeluaran generator
dari sistem paralel generator-generator akan dirasakan sama oleh
setiap generator dalam sistem tsb , tanpa overload atau overspeed.
4. Alat pembagi beban generator hanya bisa diterapkan pada
generator set-engine yang mempunyai governor dan bisa
dikembangkan untuk sistem kontrol yang lebih lanjut seperti
kontrol dengan distributed control system (DCS). 
Daftar Pustaka
1. 300 KW SEBP1384, Caterpillar Parts, 3412 Genera tor Set Engine
2. Woodward Engine Control, USA 9704825811
3. Power station engineering and economy, Bernhardt G.A. Skrotzki
and William A Vopat
Ir. Kondang HADISASONO, IP
PENGAMAT TEKNOLGI
Koordinator Lembaga Konsumen Listrik Indonesia
Gambar 1 Connection diagram for load sharing and speed control pada
generator 393 KVA, 3ph, 380V,50Hz yang diparalelkan dengan panel
untuk 3 unit generator.
Gambar 2 Power generation control, Electro hydraulic governor for
multiple unit, total engine control and load mana gement.
| SAJIAN UTAMA |
| INFORMATIKA | ELEKTRONIKA |
Please send comments, suggestions, and criticisms about ELEKTRO INDONESIA.
Click here to send me email.

procedure shuthdown GTG


Procedure Shuth down GTG.

1.Yakinkan Genset.(olie,solar,Batteray,)

2.Open breaker 11kV out going trafo 400 KVA.

3.Genset Start Auto.

4 Breaker ATS pindah auto,ke posisi Genset

5.Ikuti perpindahan power normal GTG sampai genset sudah mensuplai ke semua panael2 perkantoran udah normal.

6.Open Breaker In coming.11kV

7.Open Breaker 52G.

8.Shut down GTG.

9.Ikuti perpindahan Auto breaker 52 AR/52AS,kalau gagal manual operate.

10.Pada speed nol yakin kan lube oil pump oil mist separator fan. Rachet pump start auto.

11.Tutup Valve Gas./blind plate

**Selamat bekerja utamakan keelamatan

Diketahui Team Shut down

Koordinator Opsi/Maint

Jempor_99

GTG KDM Bontang.washing compressor

Washing Compressor/Turbine GTG - 1 - KDM-Utility Center
SUMMARY/RINGKASAN
6. CLEANING – WASHING
6. 1. INTRODUCTION
6. 2. COMPRESSOR CLEANING
6. 3. COMPRESSOR WASHING
6. 3. 1. INTRODUCTION
6. 3. 2. OFF – LINE COMPRESSOR WASHING
6. 3. 3. OFF – LINE COMPRESSOR WASHING PROCEDURE
6. 3. 4. ON – LINE COMPRESSOR WASHING
6. 3. 5. ON – LINE COMPRESSOR WASHING PROCEDURE
6. CLEANING - WASHING
6.1. INTRODUCTION
Performance turbin gas bisa menurun dikarenakan timbunan deposit pada blade
compressor selama beroperasi. Indikasi penurunan performance ditandai oleh
suatu penurunan out put power secara berangsur-angsur dan disertai
peningkatan konsumsi fuel.
Permasalahan tersebut adalah hasil langsung dari kotornya axial flow compressor.
kotornya axial flow compressor mengakibatkan penurunan flow udara, efficiency
compressor turun, dan pressure ratio compressor juga turun. Kombinasi parameter
tsb penyebab menurunnya performance compressor.
Rekomendasi cleaning pada axial flow compressor fouling & outlines dijelaskan /
diuraikan dalam buku Maintenance Volume , Section 3.
6.2. COMPRESSOR CLEANING
Jika kotoran deposit (padat dan kering), maka cleaning yang sesuai / sering
digunakan adalah solid compound cleaning.
Prosedur solid compound cleaning :
Solid compound cleaning dilakukan pada full speed dan beban di turunkan /
dikurangi. Ini untuk menjaga temperatur internal turun dan memperkecil
kemungkinan kerusakan disebabkan oleh material cleaning berkaitan dengan
hot corrosion di dalam bagian turbin. Cleaning dengan nutshells (singkat) lebih
disukai dari pada metoda pembersihan lain dan (di) atas inert proses].
Yakinkan solid compound injection dilakukan pada rate yang tepat.
Recommended cleaning agents and rates are given in the Maintenance Guide
(direkomendasikan oleh agen dan sesuai dengan petunjuk pemeliharaan).
Untuk meyakinkan kotoran pada permukaan blade yang telah kering, jika
diperlukan harus shut down satu jam sebelum metoda soild compound cleaning
dimulai.
Washing Compressor/Turbine GTG - 2 - KDM-Utility Center
Yakinkan bahwa semua separator yang terpasang pada compressor air
extraction lines ( cooling and bearing sealing air lines ) adalah berfungsi dan
bahwa semua continuous blowdowns terpasang dengan benar pada separator.
Terutama sekali, buka kedua valve pada hole continuous blowdowns di
atomizing air separator.
PERHATIAN : Valves tersebut panas.
Solid compound dapat dilakukan pada compressor dengan metoda manual.
Bila solid compound dimasukkan / dilakukan dengan tangan / manually,
gunakan dua hopper yang tersedia pada lokasi up stream of trash screen ,
untuk batasan waktu pada penyebaran yang baik di dalam udara stream. Tidak
ada pencampuran di dalam compressor, oleh karena itu, jika solid compound
tidak menyebar ketika masuk compressor hanya sebagian saja yang bersih.
Suatu hopper atau lain alat mungkin sangat membantu di (dalam) kestabilan
injection dilakukan pada rate yang tepat .
solid compound injection bisa menyebabkan gangguan pada flame scanners
dan mungkin trip. Injection rates didalam table 3 akan membantu mencegah hal
ini terjadi .( chapter 1.2.5. Maintenance Volume).
Flow rate pada solid compound harus dijaga secara hati-hati dan konsisten
sesuai standart atau kurang dari flow rate yang diberikan pada Tabel 3 untuk
mesin ukuran berbeda( Bab 1.2.5. maintenance Volume).
Proses yang Cepat dari solid compound mendorong kearah suatu akumulasi
pada solid di dalam cooling and sealing air lines dan pada bearing housing no.
2. Bahkan injection rates ditunjukkan di dalam Tabel 3 harus diamati.( Bab
1.2.5. maintenance Volume).
Untuk menentukan efek/ hasil dari Solid compound cleaning, tetapkan beban
pada 20% dan buat catatan pada exhaust temperatur dan discharge pressure
compressor.
1. @ masukkan / inject solid compound dan jaga beban tetap. Gunakan 20
pon( sekitar 9 kg) dari solid compound pada rates yang sesuai . Jika
pembersihan efektif. Maka exhaust temperatur akan turun dan
discharge pressure compressor akan mengarah naik.
2. @ masukkan / inject solid compound sampai tidak ada efek lebih lanjut
terlihat. Dalam posisi ini, pembersihan solid compound sudah selesai.
Lakukan final inspection pada inlet untuk menentukan efektivitas cleaning
Restoration / kembalikan / perbaikan :
- Tutup kedua valves pada atomizing air separator.
- Jika terpasang, kembali[kan evaporative cooler ke normal service.
Washing Compressor/Turbine GTG - 3 - KDM-Utility Center
- Operasi normal bisa dilanjutkan.
Hasil cleaning :
◊ Setelah cleaning, seharusnya secara nyata ada peningkatan performance .
Suatu peningkatan performance pada compressor ada indikasi menjadi
berapa derajat tingkat kekotoran selama cleaning. Suatu peningkatan
didalam power base load 10 persen tidaklah luar biasa. Ini dapat
ditetapkan dengan membandingkan data performance ke data
performance sebelum cleaning. ( lihat performance test prosedur dalam
maintenance Volume) untuk mesin penggerak generator dan prosedur yang
tepat untuk lain aplikasi sebelumnya diuraikan di bawah performance
monitoring. Haruslah dicatat bahwa full power tidak selalu didapat hasil
yang signifikan kekotoran yang terjadi.
◊ Reguler compressor cleaning akan membantu menjaga performance.
Interval spesifik harus ditentukan oleh costumer service.
6.3. COMPRESSOR WASHING
6.3.1. INTRODUCTION
Turbin gas mengalami suatu penurunan performance selama operasi
dikarenakan hasil deposit didalam komponen internal. Deposit terjadi
pada keduanya bagian turbin dan compressor. adanya deposit
dikarenakan udara yang tercemar dan juga deposit pada bagian turbin
terjadi disebabkan dari jenis bahan bakar yang sedang dibakar. deposit
ini juga akan mengurangi efisiensi yang hubungannya dengan
temperatur dan power output pada turbin gas. Mekanisme pengotoran
terjadi adalah beda dan terpisah.
Dibagian (didalam) bab ini, hanya compressor washing yang diuraikan.
Udara Yang tercemar terdiri dari beberapa kotoran, debu, pasir, uap
hidrokarbon, serangga, dan garam. Suatu bagian besar ini dapat
ditangkap oleh berbagai jenis aliran masuk filtration. contaminasi kering
yang melalui filters dapat dibersihkan oleh compressor cleaning( abrasive
atau nut shell / carbo blast cleaning). Contaminasi basah, seperti uap
hidrokarbon, tidak bisa dibersihkan secara efective dengan nut shell /
carbo blast dan oleh karena itu, Compressor harus di cleaning oleh dua
cara proses dengan:
□ Detergent solution dan rinsed membilas dengan air dalam
Off – Line washing procedure.
ATAU
□ Water solution dalam hal On – Line washing procedure.
6.3.2. OFF – LINE COMPRESSOR WASHING
1. Uraian fungsi :
Wash water solution di dalam perbandingan campuran yang sesuai
dimasukan kedalam unit turbin denagan tekanan yang tepat,
Washing Compressor/Turbine GTG - 4 - KDM-Utility Center
temperatur dan flow rate untuk washing turbin gas . untuk nilai yang
spesifik pada turbin gas unit ini, mengacu pada piping schematic
diagram di dalam operasi Volume dan maintenance Volume.
Wash solution dari connection skid flows melalui motorized valve 20
TW-1 menuju ke compressor spray manifold. Valve yang digerakkan
motor dan dibuka secara manual dari local push button switch ( 20 TW-
1 / PB). valve tertutup secara otomatis ketika wash selektor switch pada
posisi off. Selama pencucian compressor, valve 20 TW-1 dibuka untuk
mengalirkan wash solution dari skid mengalir ke dalam compressor
spray manifold dan melalui spray nozzles ke dalam compressor
bellmouth untuk memenuhi washing.
2. Kebutuhan system :
portable water harus digunakan untuk semua pencucian. portable
water ini harus mempunyai larutan padat kurang dari 100 ppm, sodium
plus potassium kurang dari 25 ppm, dan mempunyai ph antara 6,5 dan
7,5. Jika air yang tersedia tidak memenuhi batas ini, itu harus
diperlakukan dengan beberapa cara seperti water softener..
Perbedaan temperatur diantara wash water and wheelspace temperature
tidak boleh melebihi 120 °F ( 67 °C ).
CATATAN :
Sebelum water washing dimulai, periksa exhaust thermocouples di
dalam exhaust plenum untuk akumulasi deposit yang besar. Juga
yakinkan bahwa shield radiasi adalah diorientasikan secara radial.
Jika thermocouples dilapisi dengan deposit, atau jika shield radiasi
tidak diorientasikan dengan baik, suatu pembacaan temperatur yang
benar tidak akan diperoleh.
water wash skid menghasilkan air bertekanan , laju alir dan
temperatur yang sesuai untuk mencuci turbin gas.
Di dalam hal memilih of OFF- line and On- line washing dengan
tangki/tank air yang sama, air harus harus mempunyai larutan padat
kurang dari kurang dari 5 ppm , sodium plus potassium kurang dari
0,5 ppm, dan mempunyai suatu ph diantara 6,5 dan 7,5.
3. compressor washing frequency :
Frekwensi pada compressor washing tergantung pada kekerasan dan
jenis yang pencemaran atmosfer yang mengotori compressor dan
penurunan performance. metoda Yang direkomendasikan untuk
menetapkan frekwensi compressor washing dengan memonitor
performance turbin gas, dan membandingkan performance rutin dengan
base line performance untuk pengamatan trendnya.
Unit dalam running steady base load ukur dan catat power out put ,
exhaust temperature, inlet air temperature, barometric pressure,
compressor discharge temperature and pressure, and fuel consumption
Washing Compressor/Turbine GTG - 5 - KDM-Utility Center
Suatu analisa pada compressor ratio dan efisiensi dapat dibuat ketika
output dan heat rate dikoreksi untuk suatu kondisi standard,
memanfaatkan performance curve. Performance level kondisi saat ini
bandingkan ke baseline data.
Perbandingan dan Analisa akan menunjukkan performance trend. Jika
performance adalah sangat jelek / turun, dan pengotoran pada
compressor patut dicurigai, itu bisa dibuktikan dengan inspeksi visual.
Inspeksi visual ini perlu meliputi pemeriksaan menyangkut compressor
inlet, bellmouth, inlet guide vanes dan blade tingkat pertama dan
mungkin yang kedua pada compressor blade. Jika pengotoran adalah
disebabkan oleh contaminasi yang kering, pembersihan abrasive
mungkin akan cukup untuk mengembalikan performance yang turun(
untuk unit yang beroperasi dengan DLN sistem pembersihan yang
abrasive tidaklah direkomendasikan). Jika deposit berminyak, deterjen /
water wash dan water rinse harus / sesuai untuk abrasive cleaning.
Off – Line compressor water wash diperlukan jika penurunan
compressor 10% dalam kaitan dengan pengotoran.
CATATAN :
Pemeriksaan harus dilakukan menyangkut deposit yang berminyak
itu. Jika mungkin, tindakan korektif harus dilakukan.
6.3.3. OFF – LINE COMPRESSOR WASHING PROCEDURE
1. General
Sebelum water washing pada compressor dimulai, temperatur blade turbin
harus cukup rendah sedemikian sehingga wash water tidak menyebabkan
thermal shock. diferensial Temperatur antara wash water dan inter stage
wheelspace temperatur harus tidak lebih tinggi dari 120 ° F( 67 ° C). untuk
wash water 180 ° F( 82,3 ° C), temperatur wheelspace maksimum harus
tidak lebih besar dari 300 ° F( 149 ° C) terukur oleh yang digital
thermocouple readout sistem pada turbin control panel.
Penjadwalan menyangkut water wash harus dilakukan pada machine
normal shut down. Ini akan memberi waktu cukup pada temperatur internal
untuk penurunan temperatur ke tingkatan bisa diterima untuk washing.
Off-line water washing tidak boleh dilakukan pada inlet temperatur
compressor kurang dari 40 ° F( 4 ° C).
Selama cooling down pada turbin, wash water harus dipanaskan pada
tingkatan yang sesuai.
WARNING:
pengoperasion water wash melibatkan air pada tekanan tinggi. Perhatian
harus dilakukan untuk meyakinkan valve sesuai yang manapun dalam
Washing Compressor/Turbine GTG - 6 - KDM-Utility Center
kondisi fixed open atau fixe closed pada setiap waktu selama pengoperasian
sistem.
CATATAN:
Sebelum water washing pada compressor, periksa inlet plenum dan turbin
gas bellmouth untuk akumulasi yang besar pada contamimasi atmospheric
yang harus di cuci / washed didalam compressor. Deposit ini dapat
dibersihkan oleh washing dengan suatu pipa karet / rubber hose.
2. Preparation ( typical )
◊ Persiapan pada washing skid ( 91-305 419, Rev.A)
◊ Valve drain tangki harus tertutup ( ref . 1).
◊ Periksa water level ( ref . 2) dalam tangki/tank air dengan water level
indicator ( ref . 3). jika perlu lengkapi dengan adequate quality water(
tangki/tank harus penuh).
◊ periksa temperatur air dengan termometer pada tangki/tank air (ref.6).
◊ Periksa electrical washing panel bila disediakan.
◊ Kemudian, start water heating dengan switching on heaters 23WK-1 dan
23WK-2 ( ref . 4) dengan switch 43WK ( STOP - START).
CATATAN: Waktu yang diperlukan akan tergantung pada temperatur dan
kwantitas awal ( temperatur secara otomatis dikendalikan).
□ Periksa level indikator tangki/tank deterjen ( ref. 14). jika perlu lengkapi
dengan adequate detergent.
CATATAN: lihat detergent Rekomendasi di (dalam) turbin gas maintenance
guide volume.
◊ Tutup valve berikut ini : ref. 7, 11, 12, dan 13.
◊ Buka valve berikut ini : ref. 8, 10, dan 15.
◊ Ketika turbin shut down , dengan posisi master selection initiated Off,
dan selama waktu cooldown, putar secara manual valve berikut ini di
(dalam) posisi yang ditandai:
◊ Buka valve drain utama wash water di bagian bawah pada exhaust
plenum.
◊ Buka valve drain inlet plenum .
CATATAN: Flow false start drain harus dialihkan dari alur normal ke dalam
tangki / tank kotoran, ke dalam wash water influent drain untuk
mencegah over flow, harus dievaluasi efektivitas [menyangkut]
wash siklus.
□ Lakukan tindakan yang sama pada exhaust plenum drain line.
□ Atomizing air circuit ( 91-302 828, ref . B) di isolate dengan cara sebagai
berikut:
□ Tutup manual isolating valve pada circuit ( ref.. 2 ) dan buka low point
drain ( ref . 1).
□ Tutup manometer isolating valve ( ref. 8 ).
Washing Compressor/Turbine GTG - 7 - KDM-Utility Center
□ Tutup valve ( ref. 9 ).
□ Buka vent valve ( ref. 7 ).
□ Buka valve ( ref. 5 ) didalam inlet pada booster atomizing air
compressor.
□ Buka semua low point drains.
Cooling and sealing air circuit di isolate dengan cara sebagai
berikut :
□ Tutup valve pada bleed air line AE-5 ( ref. 8) dan AE-11 dari extraction
air . Jika valve tidak tersedia , isolate dengan blind – off plate.
□ Tutup pada lines :
- AD – 1 valve ( ref.1 ).
- AD – 2 valve ( ref.5 ).
- AD – 4 valve ( ref.7 ).
□ Periksa penutupan valve AD-3 dan AD-7( konektion ini *apakah
digunakan hanya ketika pilihan diminta) ref. 6 dan 9.
□ Jika turbin mempunyai self – cleaning inlet filter, tutup block valve dan
buka drain valve pada self – cleaning inlet filter air – line.
□ Switch motor controller untuk turbin exhaust frame cooling fan motor
88 TK-1 ( ref.. 3) dan 88 TK-2 ( ref. 4) di (dalam) manual posisi ON.
□ Tutup manual isolating valve pada flame detektor.
□ Water wash skid perlu dicek untuk kesiap-siagaan operasional.
Tentukan jika kondisi yang berikut ada:
- Water tank adalah penuh.
- Detergent tank adalah penuh.
- Unit adalah shut down.
- Water Temperatur di tingkatan yang diperlukan( lihat termometer).
- Valve pada main wash pump suction side adlah terbuka.
PERINGATAN:
Operator harus memverifikasi bahwa semua turbin wheel space
temperatur sudah di dalam 120 ° F( 67 ° C) maksimum 300 ° F( 149 ° C)
pada wash temperature. ini adalah untuk memperkecil thermal shock
pada bagian hot gas path. Ini adalah terpenuhi dengan monitoring
indikator temperatur pada panel turbin.
CATATAN :
□ Dengan SPEEDTRONIC MK V panel, Control sistem bekerja secara otomatis
tdak memberi permissive signal jika semua temperatur turbin adalah tidak
terpenuhi.
□ Bila deterjen digunakan untuk washing , Lakukan sebagai berikut.
3. Wetting period (Periode Pelembapan)
◊ Pada interface operator untuk “ User Defined Display " dari Menu utama
dengan pointing and clicking.
◊ Pilih “ Water Wash “ display and click.
Washing Compressor/Turbine GTG - 8 - KDM-Utility Center
◊ Temukan fungsi water wash dengan menggunakan target Next Page
dan Prev Page.
◊ Pilih “ Wash On “ target dan klik. Kemudian, pilih “ Execute Command"
target ( atau Key F 6 ) .
Seseorang dapat memulai dua status:
◊ WASH OFF: turbin Operasi adalah mungkin kecuali washing.
◊ WASH ON: firing turbin dilarang, Inlet Guide Vanes ( I.G.V.) akan
membuka secepat speed relay 14 HM picked-up, permissive diberikan
untuk membuka motorized valve 20 TW-1 dengan tindakan on pada
push-button 20 TW-1 / PB terletak di (dalam) accessory compartment .
◊ Bila Wash On dipilih, memulai Starting operation dalam Crank Mode.
◊ Bila cranking speed sudah tercapai ( 14 HM speed relay energized ),
buka motorized water wash valve pada compressor dengan depressing
20 TW-1 / PB( push-button ).
◊ Buka valve ( ref. 12 ) pada washing skid ( valve yang lainnya ref. 11
dan 13 dalam kondisi tertutup).
◊ Start main wash pump motor 88 TW ( ref. 9 ) secara manual dan
basahi / wet the compressor selama 1 sampai 2 menit dengan air
bersih.
◊ Amati / lihat water flow dengan flow indicator ( ref . 19 ). Matikan
pompa 88 TW ( ref . 9) setelah wetting periode. Initiate Turbin Stop
signal . Turbin Stop signal akan otomatis menutup 20 TW- 1.
◊ Pembasahan Operasi sudah selesai / The wetting operation is finished
NOTES :
□ Lakukan penyesuaian / Adjust water flow setara dengan spesifikasi jika
perlu.
□ Selama wetting operation ini , seseorang dapat mengevaluasi efektivitas
pada wash cycle dengan penglihatan di false start drain effluent valves
( VA 17).
4. Washing periode :
□ Pada washing skid, tutup valve ( ref. 12) dan buka valve ( ref . 11 dan
13).
□ Mulai suatu turbin START signal dalam cranking mode dengan Wash On
selection.
□ Pada 14 HM, buka valve water wash pada compressor menggunakan
push-button 20 TW-1 / PB.
□ Start secara manual main wash pump 88 TW ( ref . 9 ) pada skid control
panel dengan menekan start push-button 43 TW.
□ Start secara manual deterjen metering pump 88 DM ( ref .16 ) pada skid
control panel dengan menekan start- push-button 43 DM.
□ Wash / deterjen solution harus running 3 sampai 5 menit.
Washing Compressor/Turbine GTG - 9 - KDM-Utility Center
□ Matikan deterjen metering pompa dengan menekan Stop button 43
DM.
□ Matikan main wash pump motor dengan menekan Stop button 43 TW.
□ Mulai / initiate turbin Stop Signal . Ini akan secara otomatis menutup 20
TW-1 compressor wash valve.
□ Tutup valve ( ref. 11 dan 13) pada washing skid.
CATATAN:
□ Untuk ratio detergent / wash yang tepat , mengacu pada instruksi
pabrikan deterjen atau compressor cleaning information dalam gas
turbin equipment publication volume dan periksa schematic diagram
untuk nilai-nilai flow spesifik.
□ Ratio / perbandingan harus disesuaikan pada nilai-nilai sesuai dengan
tindakan pada pengaturan valve ( ref. 17 dan 18). Persesuaian flow
adalah dikendalikan dengan flow meter ( ref.19).
□ Selama coastdown dan dengan seketika setelah itu, mengijinkan turbin
untuk merendam kira-kira 20 menit .
5. Rinsing Operation :
□ Setelah waktu merendam selesai , mulai suatu Start turbin signal,
dengan pilihan WASH-ON .
□ Buka water wash shut off valve 20 TW-1 menggunakan push-button
station 20 TW-1 / PB di turbin.
□ Runningkan / allow turbin sampai mencapai full continuous crank speed
.
□ Buka water wash isolating valve di skid ( ref . 12).
□ Start main wash pump 88 TW ( ref. 9 ) secara manual. Bilas / rinse
compressor oleh pemompaan clean water dari skid dengan main wash
pump .
□ Cuci / Wash compressor selama 15 sampai 20 menit.
CATATAN:
◊ Pengalaman akan menentukan interval waktu yang tepat untuk berbagai
variasi wash operation atau apakah pengulangan pada prosedur diatas
diperlukan untuk mengembalikan performance yang turun .
◊ Setelah washing selesai / complete , matikan main wash pump 88 TW (
ref . 9) dan matikan / shut down unit.
◊ Tutup pada semua valve di skid dan matikan water heating ( ref. 4).
6. Driying operation :
□ Mulai / initiate turbin START signal dengan pilihan WASH-ON.
□ Runningkan / Ijinkan turbin akselerasi sampai Crank speed.
□ Yakinkan / Allow turbin untuk pengeringan sampai 20 menit.
□ Buka drain fuel manifold dan buka semua drain low point didalam system
atomizing air , fuel system dan purge system .
□ Mulai / initiate turbin Stop signal.
Washing Compressor/Turbine GTG - 10 - KDM-Utility Center
7. End of the washing sequance :
□ Mulai / initiate akhir dari fungsi water Wash dengan pilihan “ WASH OFF “
pada interface operator di (dalam) display “ WATER WASH “.
CATATAN:
□ Bila dipilih Wash Off , maka turbin diijinkan untuk fire dan 20 TW-1 valve
harus terbuka.
□ Tutup fuel manifold drains.
□ Buka manual isolating valve di flame detektor.
Kembalikan valve manual yang berikut pada posisi sebelumnya :
◊ liran yang melalui false start drai valve harus dialihkan / dinormalkan dari
wash water effluent ke sludge tank .
◊ akukan tindakan yang sama untuk exhaust plenum drain line.
◊ utup inlet plenum drain valve.
◊ utup main wash water drain line dibagian bawah pada exhaust plenum.
Atomizing air circuit ( 91-302 828, ref. B) diposisikan dengan
caraberikut:
◊ Buka manual isolating valve pada circuit ( ref. 2) dan tutup low point drain
( ref . 1).
◊ Buka manometer isolating valve ( ref . 8).
◊ Tutup valve ( ref . 5 ) di dalam inlet pada booster atomizing air
compressor.
◊ Tutup vent valve ( ref. 7).
◊ Tutup semua low point drain di dalam atomizing air lines.
◊ Pastikan bahwa lubang continuous blow down tidak buntu dan tidak
bocor pada lubang ini dialirkan ke atmospheric.
Cooling and sealing air circuit ( 91-303 985) diposisikan dalam cara
yang berikut:
Buka pada lines :
◊ AD – 1 valve ( ref. 1)
◊ AD – 2 valve ( ref. 5)
◊ AD – 4 valve ( ref. 7)
◊ Buka valve pada lines AD – 3 dan AD - 7 hanya jika operasi digunakan(
ref. 6 dan 9).
◊ Buka valve ( ref . 8 ) atau lepas blind / blank-off plate didalam bleed air
line( AE-5 dan AE - 11) dari extraction air.
◊ Switch motor controller untuk turbin exhaust frame cooling fan motor 88
TK-1( ref. 3) dan 88 TK-2( ref. 4) ke dalam mode" AUTO".
◊ Tutup low point drain.
◊ Bila turbin mempunyai self cleaning inlet filter, buka block valve dan tutup
drain valvepada self cleaning filter air line.
Washing Compressor/Turbine GTG - 11 - KDM-Utility Center
CATATAN:
□ Yakinkan air mengalir menuju ke drain dari line diatasnya selagi perbaikan
sedang dilakukan.
□ Pastikan bahwa lubang continuous blow down tidak buntu dan tidak
bocor pada lubang ini dialirkan ke atmospheric.
□ Pilih Master Operation di interface operator dalam mode AUTO atau
REMOTE.
□ Initiate turbin start signal di dalam 24 jam setelah penyelesaian Dry cycle
dan mengijinkan untuk mempercepat, dan pertahankan full speed
sedikitnya 5 menit.
□ Setelah compressor washing selesai, compressor harus dibersihkan
dengan solid compound cleaning ( lihat 6.2 di dalam volume ini).
□ Sekarang Turbin gas siap running atau untuk dibebani.
CATATAN:
□ Lihat kemungkinan kebocoran udara dari semua saluran.
□ Periksa penutupan dari semua low point drain.
6.3.4. ON – LINE COMPRESSOR WASHING ( TYPICAL )
1. Functional description
◊ wash water solution dialirkan kedalam unit turbin pada pressure ,
temperature , dan flow rate yang tepat untuk washing gas turbin . untuk
batasan yang spesifik turbin gas unit ini mengacu pada piping schematic
diagram dalam volume pemeliharaan dan volume operasi.
◊ Valve 20 TW-3 secara otomatis diatur oleh control speedtronic .Selama
compressor washing valve 20 TW-3 dibuka memberi aliran wash solution
dari skid ke dalam compressor spray manifold dan melalui spray nozzles
ke dalam compressor bellmouth untuk memenuhi washing .
2. System requirements
◊ Portable water seharusnya digunakan untuk semua cucian / washing . Air
ini harus lebih kecil dari 5 ppm dissolved solid , kurang dari 0,5 ppm
sodium plus
◊ potassium, dan mempunyai suatu ph diantara 6,5 dan 7,5. Jika air yang
tersedia tidak sesuai dengan batas ini, [itu] harus diperlakukan dengan
menambahkan seperti water softener.
CATATAN:
□ Suhu lingkungan harus lebih tinggi daripada 10 ° C.
□ Suatu water wash skid menghasilkan air pada tekanan , temperatur, dan
flow rate yang sesuai untuk mencuci turbin gas.
3. compressor washing frekwensi
◊ Suatu contaminasi atau kotoran pada compressor akan menjadi paling
jelas dalam wujud penurunan maksimum out-put power atau kenaikan
exhaust temperature dan konsumsi fuel , pada daya keluaran dan suhu
lingkungan ditentukan. Di dalam beberapa kasus deposit bisa
Washing Compressor/Turbine GTG - 12 - KDM-Utility Center
menyebabkan compressor stall dan vibrasi selama acceleration atau
aplikasi beban
◊ Tingkat di mana pencemaran terjadi akan merupakan suatu fungsi
menyangkut operasi lingkungan dan derajat tingkat udara filtration yang
tersedia. Oleh karena itu pembersihan frekwensi dan jumlah pembersihan
cairan dapat diubah setelah suatu waktu dalam rangka memperoleh
jumlah maksimum cleaning prosedur.
◊ Meskipun demikian EUROPEAN GAS TURBINE SA memberi petunjuk
untuk one - line washing adalah yang berikut:
◊ Frekwensi : 3 kali seminggu sampai 1 kali sehari .
◊ Duration : 5 menit sampai 20 menit.
◊ Dalam rangka menentukan prosedur pembersihan yang paling efektif,
adalah penting untuk memeriksa performance turbin sebelum dan setelah
cleaning.
◊ Bila On – line water washing tidak diijinkan karena dalam kaitan dengan
kondisi ambient atmosperic, Washing dengan solid cleaning compound
akan memungkinkan tetapi metoda ini tidak preffered oleh EUROPEAN
GAS TURBINE SA.
6.3.5 ON – LINE COMPRESSOR WASHING PROSEDURE
General :
◊ Turbin harus running pada full speed dan tidak dalam proses shutting
down.
◊ Inlet Guide Vane ( IGV ) harus dalam posisi terbuka 81° atau lebih besar.
◊ Untuk unit yang beroperasi dengan DLN sistem, posisi terbuka penuh
terjadi hanya pada base load.
◊ Turunkan beban 5 % jika pengoperasian pada beban base load]. unit yang
beroperasi dengan DLN sistem tdak harus mengurangi beban dan harus
melaksanakan compressor wash pada beban penuh / base load untuk
mencapai full open IGV.
◊ Unit yang beroperasi dengan water or steam untuk NOX control atau power
tambahan harus mengurangi / menurunkan water or steam injection
maksimum 3% pada compressor inlet flow.
◊ untuk unit yang beroperasi dengan DLN sistem, washing harus dilakukan
selagi dalam Extended lean lean atau Premix combustion modes.
◊ Temperatur wash water harus lebih tinngi daripada 50 ° F( 10 ° C).
WARNING :
□ Pengoperasian water wash menggunakan air bertekanan tinggi. Perhatian
harus hati hati untuk meyakinkan valve yang sesuai di (dalam) kondisi
□ ditetapkan terbuka atau posisi tertutup pada setiap waktu selama
pengoperasian sistem.
CATATAN :
□ Sebelum water washing compressor dilakukan , periksa inlet plenum dan
turbin gas bellmouth untuk akumulasi yang lebih besar dari atmospheric
contaminasi yang mana bisa dicuci didalam compressor.
□ Deposit itu dapat dibersihkan dengan cucian suatu pipa karet / hose .
Washing Compressor/Turbine GTG - 13 - KDM-Utility Center
□ Preparation ( typical )
□ Persiapan pada washing skid ( 91- 305419, Ref. A)
- Valve drain harus tertutup ( ref. 1). Periksa water level ( ref . 2) di
dalam tangki/tank air dengan water level indicator ( ref. 3).
□ Tambahkan dengan water adequate quality bila diperlukan ( tangki/tank
harus penuh).
 Periksa temperatur air dengan termometer pada tangki/tank air( ref.6).
 Periksa panel electrical washing bila tersedia.
 Kemudian, start water heating dengan switching on pada heater 23 WK-
1 dan 23 WK- 2 ( ref . 4).
 Periksa penutupan pada strainer valve ( ref . 7).
 Periksa pembukaan manometer isolating valve ( ref . 10 dan 15).
 Buka valve setelah wash tank( ref . 8).
 Tutup valve yang digunakan untuk deterjen washing ( ref . 11 dan 13).
PERHATIAN:
□ Sebelum melakukan washing periksa penutupan pada flow valve ( ref .
17). Selama metoda washibg digunakan , buka valve tsb diatas untuk
memperoleh flow meter suatu nilai berikut:
WASHING OFF-LINE 100%.
WASHING ON-LINE 20 sampai 25%
3. Washing
◊ Start main motor pompa 88 TW secara manual ( ref . 9).
◊ Pada speedtronic MARK V:
◊ Dari MAIN MENU, pilih “ User Defined Display “.
◊ Pilih “ WATER WASH “ display dan klik.
◊ Temukan fungsi water wash dengan penggunaan target NEXT PAGE dan
PREV PAGE.
◊ Pilih “ ON-LINE WASH ON “ target kemudian EXECUTE COMMAND target
atau ( key F 6).
◊ Gunakan air pada rate yang sesuai dengan spesifikasi selama 30
menit.
CATATAN:
□ Pengoperasian washing dimungkinkan hanya bila temperatur CTIM
adalah atasan di LKWCTIM yang tetap( mengacu pada pengendalian
spesifikasi untuk valve sesuai, lihat modul 11).
4. Washing stop
◊ Pilih “ON-LINE WASH OFF” target di dalam “WATER WASH” kemudian
EXECUTE COMMAND target.
◊ Matikan main motor pompa 88 TW ( ref . 9).
◊ Kembalikan semua manual valve kepada posisi sebelumnya.
CATATAN: Ketika ON-LINE WASH OFF is selected 20 TW-3 valve menutup.
Washing Compressor/Turbine GTG - 14 - KDM-Utility Center
Washing skid procedure for axial compressor
◊ Tempatkan washing skid unit dekat dengan gas turbin generator.
◊ Connect kabel electrical ke main switch washing skid unit.
◊ Connect flexible hose delivery pump ke turbin washing header.
◊ Isi rinsing tank / water tank dengan Demin water.
◊ Isi washing tank / detergent tank dengan larutan detergent.
◊ Start electric heater untuk menjaga temperature demin water sekitar 70 °C.
◊ Untuk memudahkan pencampuran antara demin water dan detergent
lakukan sbb:
◊ Tutup valve pompa delivery dan buka by-pass valve.
◊ Start pompa dan runningkan untuk beberapa menit saja.
◊ Sebelum melakukan washing axial compressor unit gas turbin harus
cranking terlebih dahulu, kemudian dengan menutup by-pass valve dan
runningkan pompa sampai detergent pada washing tank habis,dan matikan
pompa.
◊ Setelah washing procedure selesai, tutup valve suction washing tank dan
buka valve suction water tank .
◊ Start pompa sampai procedure pembilasan selesai dan kemudian matikan
pompa.
◊ Isi kembali rinsing tank / water tank dengan demin water untuk pembilasan
lebih optimal.
◊ Dengan selesainya washing, lakukan pengeringan axial compressor dengan
cranking beberapa menit.